Siapapun bisa bersuara, bukan?

Pertanyaannya: Apakah kita butuh wakil rakyat seperti ini?

Bukan saya menghakimi. Bukan. Saya hanya pelajar. Kalau untuk orang seperti anda, bisa dibilang saya masih 'cilik'. Masih tidak dapat mengungkapkan suara dengan baik. Tapi saya berusaha, sedang berusaha.
Melihat berita dan gambar seperti itu, tentu membuat saya berpikir, tertawa, dan bahkan mencemooh. 
Saya berpikir "Apakah itu contoh yang baik? Apakah itu karena rapat membosankan?". Saya tertawa karena, saya kira hanya anak-anak remaja seperti kami yang akan melakukan hal itu. Saya tertawa karena bapak itu hanya memberi contoh yang tidak baik bagi kita. Saya tertawa karena ketika dia dahulu meremehkan dan bahkan mungkin melarang anak-anaknya untuk tidak membuka hal-hal seperti itu, malah sekarang ia membukanya. 


Berikut wawancara lengkap dengan Arifinto.

"Itu foto Anda beredar, benarkah itu Anda?"
 
Iya itu memang saya

"Anda memang sedang menonton film porno?"


Enggak, saya nggak nonton. Itu saya lagi ngelihat email dari orang, terus ada link. Ya saya buka ternyata isinya begituan, ya langsung saya tutup
.

"Memangnya siapa yang mengirim email berisi link itu?"


Saya lupa, nggak tahu tuh, sudah saya hapus juga kok. Mungkin orang iseng kali, saya kan sering dapat email iseng kayak gitu. Kadang dari BBM juga.
"Memang apa judul email itu, apa nggak ada porno-pornonya?"


Enggak ada, cuma judulnya bikin penasaran, silakan buka, ya saya buka saja. Ya saya salah juga sih kenapa saya buka tadi.
"Berapa lama Anda melihat adegan itu?"


Enggak lama, cuma sebentar. Begitu tahu itu porno langsung saya tutup kok dan hapus. Saya nggak menikmati dan dipelototin gitu.

"Situsnya apa?"


Wah saya nggak konsentrasi, langsung saya tutup dan saya hapus dan saya buang.


Apakah tadi pagi saya salah baca koran atau apa? Ia melakukan pembelaan dengan berkata ia merasa bosan terhadap rapat paripurna. Walaupun ia tidak menonton video itu. Walaupun ia tidak menikmatinya... Tapi apakah pantas ketika sedang rapat paripurna DPR, membahas suatu masalah. Masalah yang kiranya dapat diselesaikan untuk Indonesia... Ia malah membuka 'mainannya'. Bisa dilihat itu adalah galaxy tab. Apakah pantas? Bukan menyimak? Jujur, saya kalo mengikuti rapat di OSIS saya merasa bosan. Tapi setidaknya saya berusaha untuk mendengarkan. Saya selalu berusaha dapat berkontribusi.. Walau terkadang di satu sisi saya juga merasa "Apa gunanya rapat yang saya jalani sekarang?". Tapi kembali lagi ke diri masing-masing, saya selalu punya pikiran "Kalau tidak mau ikut rapat. Ngapain repot-repot jadi OSIS. Kenapa ga nolak?" . "Kalau tidak mau ikut rapat. Ngapain repot-repot jadi wakil rakyat?"

Ya kan? Bener toh? Sudahlah saya hanya mengeluarkan opini saya saja.
Saya tidak menghakimi, hanya mengeluarkan opini. Jika merasa terhakimi, mungkin postingan saya ada benarnya.
Saya tahu, yang Bapak Arifinto butuhkan mungkin hanyalah sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia memang benar-benar terpilih untuk menjadl wakil rakyat yang duduk di kursi DPR. Semoga dalam rapat selanjutnya, hasil benar-benar ada. Tidak hanya duduk tapi bersuara.

Siapapun bisa bersuara, bukan? Termasuk saya, kamu, untuk Indonesia...

PS: Pak Tifatul Sembiring jangan kecewa ya Pak. Rekan kerja bapak membuat malu bapak juga. Dimana dulu bapak gencar-gencarnya ingin memblokir situs porno, tapi masih ada yang kelewat tuh pak.

Comments

Popular posts from this blog

Believe Me, Some Dreams Come True

#9

Hello, It's Me.