Thursday, December 29, 2011

#18

Belajar hal-hal yang tidak penting tersebut akan membuat kamu merasa menjadi penting-- walau terkadang kita mungkin akan berhenti untuk belajar hal-hal yang tidak penting tersebut.

Tuesday, December 27, 2011

Ini ceritaku. Kalau kamu?

Siapa yang setuju masa-masa naksir adalah masa-masa paling indah? Siapa yang setuju terkadang naksir itu tidak berarti kita harus pacaran dengan orang yang kita taksir? 
This whole idea about having a crush with someone it's the craziest ever. So, I would tell it to you who willing to read this story. 
Selama masa 17 tahun hidup. Ketika beranjak remaja dan harus mampu melewati masa transisi yang dari SD (cuman tahu pulang sekolah ke warnet buat main game online)-- ke masa SMP yang pulang sekolah harus seperti wajib membuka friendster (Ah, masa friendster itu adalah masa dimana huruf besar dan huruf kecil dicampur sedikit angka masih dimaklumi) orang yang ditaksir. Ketika SD dengerin lagu dari penyanyi yang disuka (Ah, masa dimana Sheila On7, Westlife, Blues, dan lainnya) harus digantikan mendengar lagu My Chemical Romance, Good Charlotte dan band rock-punk lainnya agar bisa lebih dekat dengan orang yang ditaksir...

Selama dua tahun dengan masa jatuh cinta monyet yang kualami, sungguh merupakan masa transisi paling indah ketika kita paling tahu apa yang orang kita taksir itu kesukaannya apa. Tahun kelas 7 dan 8 dihabiskan dengan begitu indah. Masih ingat aku bau hujan dan harum jaket hitammu yang kamu pinjamkan untukku.
Berlanjut ke tahun ke-9 dalam Sekolah Menengah Pertama. Di situ masa-masa taksir-menaksir kembali terulang. Tetapi aku tahu hal ini akan sama seperti sebelumnya. Tidak akan berlanjut hingga jenjang yang dinantikan banyak anak muda sehabis taksir-menaksir dan PDKT. Aku cukup sadar bahwa pada masa kelas 9 ini benar-benar harus sampai pada tahap naksir, tidak bisa lebih. Karena orang yang ditaksir sendiri sudah punya pacar (Which his girlfriend is my friend too). Tetapi memang cinta memang gila dan tidak pakai basa-basi akhir tahun kelas 9 tanpa ada penyesalan kata 'Aku suka kamu' ke orang yang ditaksir pun terlontar. Cukup kami berdua tahu-- Aku suka, kamu tidak suka. Tidak perlu pakai embel-embel 'PLEASE GUE NAKSIR LO. PLEASE JADI PACAR GUE.' terlontar dari mulut. Okay, itu lebih persis remaja ababil yang lagi kesurupan atau lagi belajar acting buat casting untuk FTV. Toh, sampai sekarang kami masih berteman baik. 

Setuju dengan filosofi obat dari patah hati sendiri adalah mencari hati yang baru kan? Di masa kelas 10 hingga sekarang ini bisa dibilang masa naksir itu datang lagi. Orang yang beruntung itu adalah teman lama. Orang yang dulu ketika kita anggap tidak penting tapi sekarang bisa sukses membuat galau di masa kelas 11 dan 12. Di mana ini bukan cuman sampai tahap naksir dan tidak bakal pernah sampai ke tahap pacaran (Because, I just don't want to).Ketika naksir bisa merubah segalanya. Merubah genre music kamu, merubah kebiasaanmu yang biasa cuman blogging menjadi youtube-ing, dan merubah pola tidur. Ketika tahap naksir berkembang jadi respon yang baik itu adalah perasaan terbahagia ke-sekian untukku (Tidak tahu kenapa rasa bahagia habis kentut atau ngupil masih lebih baik). Sebab, aku tahu apa yang aku mau-- tidak terikat commitment pacaran untuk sekarang ini. Memang manusia butuh status tapi tidak bearti your whole life based on your status. Sehingga tahun sekarang, kata 'naksir' masih sukses membuatku menjadi single yang bahagia. 

Kadang ketika naksir kita selalu minta tolong sama orang lain (Bukan minta tolong seperti di Masih Dunia Lain yang kayak 'TOLONG SAYA NGGA KUAT! NGGA KUAT' sambil dadah-dadah ke camera) buat cari tahu juga informasi tentang orang yang kita taksir. Entah kenapa hal itu juga menyebabkan kita jadi lebih dekat dengan orang lain tersebut. Bukan dengan orang yang kita taksir. Padahal estetika dari naksir itu adalah kita belajar setiap detail orang yang kita taksir. Mungkin kamu belajar waktu tidur dia, pola makan dia, kesukaan dia, pada hari Selasa dia punya aktivitas apa, kenapa dia tidak mau pergi sekolah jam segini, kenapa dia lebih senang di library, kenapa dia kadang mau punya waktu untuk sendiri, dan masih banyak.
'Karena cinta--gak peduli seberapa dangdutnya kata ini-- itu simpel, Ver. Cinta itu ngga perlu pake logika dan rumus-rumus 'Kenapa aku ngga boleh suka sama dia?'. Cinta itu bukan ajang coba-coba yang bisa kita dapetin dari acara The Bachelor, cinta itu lebih dari itu. Cinta itu ketawa gak jelas kalo baca smsnya, cinta itu liatin dia dari jauh sambil malu-malu, cinta itu jadi sering senyum-senyum sendiri. Cinta itu belajar cara masak karena kata orang cara paling gampang buat bikin mereka suka kita itu dari perutnya, cinta itu bela-belain tidur jam 3 pagi padahal tau bakal sakit.' -- Andrea
Jadi kata naksir sebenarnya secara harafiah adalah hal yang dijabarkan sahebat saya. Sesimple, semudah, seindah dan serumit itu. Naksir kalau menurut @pergijauh 'Cinta itu gak butuh eksistensi, cuma aku-kamu tanpa sederet konstitusi' itu benar. Kata naksir hanya segampang itu kok. Terkadang ketika kita naksir dengan seseorang, kita juga harus mengenal The Art of Letting Go. Karena mungkin kita bisa jadi naksir dengan orang yang tepat dalam waktu yang salah... 

Karena pada sesungguhnya ketika kita hanya naksir kita sudah mulai jatuh cinta. Ketika kita naksir kita  sedang belajar. Belajar mencari tahu apa saja hal-hal tidak penting yang terkadang bisa menjadi penting untuk hidup kita sesaat. Sebab hal-hal yang tidak penting yang kamu ketahui itu sendiri akan menjadikan kamu penting. Tetapi tidak semua hal yang tidak penting dan sesaat itu jadi penting buat kamu--akan bertahan lama. Sebab, cinta itu tidak selalu everlasting--kecuali cinta Tuhan pada kita. Aku, kamu dan kita mungkin akan ada fase dimana harus berhenti untuk mempelajari hal-hal yang tidak penting itu. Bersyukur kalau kita bisa terus belajar hal-hal tidak penting itu. Tetapi pada masanya mungkin kita harus berhenti. Bukan karena tidak sanggup untuk belajar tapi karena kesempatan belajar itu akan hilang secara tiba-tiba.
Juga karena pada sesungguhnya: Estetika dari naksir itu ketika kita bisa tahu kehidupan orang yang kita taksir dengan mencari tahunya sendiri. Estetika dari naksir itu adalah suka satu arah. Estetika dari naksir itu adalah ketawa ketika sms-mu dibales. Estetika dari naksir adalah ketika orang yang kita taksir merespon lebih dari yang kita bayangkan tetapi kita tidak pernah menanggap itu adalah sebuah signal. Estetika dari naksir itu ketika sama-sama terbangun buat nonton bola. Estetika dari naksir itu adalah ketika orang yang kita taksir diam-diam juga mengetahui kita naksir dan pada akhirnya akan pura-pura tidak tahu. Estetika dari naksir itu ketika ke sekolah jadi semangat karena ada orang yang kita taksir. Tetapi buat saya, the most important thing about having crush is-- Estetika dari naksir itu cukup sampai diam dan lihat punggungmu berlalu terus meyakinkan diri bahwa untuk jadi temanmu dan  menjadikanmu cerita di masa depan-- itu sudah lebih dari cukup... 

Having crush but don't make your crush become your crash.

Seperti Indomie. Ini cerita taksir-menaksirku, selanjutnya apa ceritamu? 

PS: Kepada anak muda di seluruh Indonesia. Kenapa sih harus in a rush dalam masa taksir-menaksir, maunya cepat-cepat dipacari dan memacari? Cinta itu bukan Bus Kota yang harus kamu kejar, sekalipun kamu kelewat satu Bus Kota kamu harus yakin akan ada Bus Kota yang lainnya dan di saat itu kamu udah harus siap jangan sampai terlewat lagi. Untuk sekarang kenapa tidak coba enjoy tahap taksir-menaksir dan PDKT? Sebab menurut survey yang ada 75% orang suka masa-masa taksir-menaksir ketimbang masa pacaran.

Friday, December 23, 2011

Tuhan Minum Kopi

Saya lebih percaya dengan jawaban lain yaitu Tuhan mungkin minum secangkir kopi dengan kafein yang sangat tinggi. Akhirnya Tuhan merasa segar selalu, tidak merasa mengantuk karena secangkir kopi dengan kafein tinggi itu adalah kita sendiri. Ketika kita berdoa, mencari, menyebut, memanggil nama-Nya. Itu adalah kafein tingkat tinggi bagi Dia agar Dia tidak merasa lelah dan mengantuk. Ketika ada orang yang mengatakan Tuhan itu tidak ada, saya rasa saya tahu jawaban yang akan selalu saya pilih. Tuhan minum kopi.

PS: This is a part of my short-story. Feel free to ask me if you want to read my short-story. Reach me on twitter, tweet me @veraciu and tell me if you want to read 'Tuhan Minum Kopi'. I will send the story to your email so you can read it. Thank you :)

#17

Manusia tidak pernah tahu kapan ia akan berhenti untuk mencinta dan dicinta. Setidaknya ia tidak tahu kapan harus berhenti-- kita tidak akan pernah tahu...

Tuesday, December 20, 2011

Bowling Party!

Okay guys, I should have posted this since a centuries ago. So, around a week ago me and my friends were having fun with Bowling. We were playing Bowling. Actually, it's my first time or second I played Bowling. It was fun, all of us we're playing like a pro. Lol. So, here pictures of us!


Bagus with his 'boobs'

We were choosing which ball that we're gonna use


Erick got his first 'strike'!

Evelyn choosed that ball! Quite heavy!

Mario is the pro one!

There's Sandra and her first 'spare'

Wulan is the master of all!

Icha. This girl has a special trick!

Okay, there's myself with Ivan

<3 


Bagus, could you smile please? 

Myself with my girls ;)

I don't know why I love this one

So, there's a few pics of us! Let's have some fun again dude! Bowling is great way to reduce your stress! And maybe we could go to Ice Skating together! :D :D

PS: All of this pictures was taken using my camera hehehehehehe. I got the new one, finally.